Hujan

 Hujan

karya: Alpin Nur S

Kisah tentang seseorang yang minta dihadiahi hujan ketika ulang tahun


Hadiah adalah suatu ungkapan kasih sayang dari satu manusia ke manusia lainnya. Tapi jika hadiah itu sulit didapatkan, apakah bisa disebut rasa sayang. Jika kita ingin memberikan hadiah, sebaiknya jangan memberikan penawaran. Karena kita tidak tahu, permintaan menakjubkan apa yang dia inginkan. Ini adalah sebuah  kisah seorang manusia kaya yang percaya diri untuk membelikan apapun untuk kekasihnya.


Sebut saja namanya Kohnidin, ia adalah manusia yang secara materi luar biasa banyaknya. Kohnidin adalah blasteran sunda dan cina. Harta yang dimiliki tidak lain dan tidak bukan adalah usaha sembako yang diwariskan oleh ayahnya. Usaha sembakonya ada di mana mana seperti warung madura. Namun terletak perbedaan pada sembako yang dijalankan Kohnidin. Apakah itu? Ah nanti saja saya kasih tahu.. saya mau tidur dulu.


Nah saya sudah bangun kembali, pasti kalian penasaran mendengar cerita selanjutnya dari kisah kohnidin ini.


Kohnidin sejatinya adalah orang yang sangat dermawan. Sembako yang dia jual, setiap bulannya dibagikan kepada yang membutuhkan. Kalau tidak butuh, ya tidak dia berikan. Kohnidin percaya bahwa semakin banyak harta dibagikan atau disedekahkan. Maka akan lebih banyak mendapatkan keuntungan. Karena sejatinya berbuat baik tidaklah merugikan apabila kita punya uang yang berkecukupan.


Usia kohnidin sekarang menginjak 30 tahun, namun dia belum memiliki seorang istri. Kalau kekasih yang dia sukai ada sih. Banyak wanita yang ingin menikah dengan Kohnidin karena kekayaannya. Namun kohnidin menginginkan wanita yang tulus mencintainya bukan hartanya. 


Kenapa begitu? Karena wanita wanita yang dahulu pernah ia dekati. Ketika meminta hadiah ulang tahun, sifatnya selalu materi materi dan materi. Minta cincin lah, mobil lah, uang 271 T lah dan sebagainya. Namun wanita yang kali ini Kohnidin temui berbeda. Dia adalah Anjani, perempuan yang sangat sederhana dan memiliki kedua orang tua. 


Anjani adalah wanita muda berusia dua puluh lima. Ayahnya orang belanda dan ibunya adalah orang sunda. Wanita ini sangat cantik dan baik hati. Siapa saja yang menatapnya pasti akan tertarik. Senyum manisnya bisa saja memabukkan semut yang sedang berkumpul. Ia juga merupakan manusia yang taat beragama. Menurutnya kebahagiaan adala rasa syukur atas apa yang dimilikinya. Harta bukanlah puncak kebahagiaan, percuma memiliki harta kekayaan. Jika kebahagiaan tidak bisa didapatkan.


Kohnidin bertemu dengan Anjani ketika acara 17 agustusan pukul 8 pagi. Kala itu Kohnidin mengikuti perlombaan makan kerupuk. Anjani tidak mengikuti perlombaan karena bertugas menjadi panitia. Ketika perlombaan makan kerupuk dimulai, peserta yang lain bersegera menghabiskan kerupuk yang ada di depannya. Berbeda dengan Kohnidin, ia baru memulai memakan kerupuk ketika ada yang memberikan semangkuk mie. Usut punya usut, Kohnidin sudah memesan sebelum perlombaan. Penonton di tempat itu lantas tertawa melihat Kohnidin makan kerupuk dengan mie. Ketika peserta sudah menghabiskan kerupuknya, Kohnidin masih santai dan tidak perduli. Ia menikmati setiap gigitan kerupuk. 


Anjani sebagai panitia sudah tidak sabar dengan sikap Kohnidin. Panitia yang lain hanya terdiam karena sudah dibayar untuk tidak melakukan apa apa. Anjani pun menghampiri Kohnidin dan memintanya pindah ke ruang panitia. Kohnidin pun tanpa basa basi langsung menyutujui permintaan Anjani. Sesampainya di ruang panitia, Kohnidin dan Anjani saling memperkenalkan diri. Begitulah pertemuan awal mereka.


Singkat cerita mereka melakukan pendekatan atau pedekate selama hampir satu tahun. Hingga akhirnya ulang tahun Anjani pun tiba. Seperti biasa terhadap pasangan sebelum sebelumnya, Kohnidin menawarkan Anjani untuk meminta apa saja yang Anjani inginkan. 


"Anjani, di hari ulang tahunmu sekarang.. kamu mau hadiah apa?" Ucap Kohnidin ketika sedang kencan bersama Anjani

"Permintaanku hanya 1" jawab Anjani

"Apa Anjani?" Kohnidin merespon dengan penasaran

"Aku ingin hujan" 

"Hujan? Apakah aku tidak salah dengar?"

"Iya hujan"

"Mengapa kamu tidak menginginkan harta atau barang berharga?"

"Kamu akan tau jawabannya, jika permintaanku sudah dilaksanakan. Jika terjadi hujan. Maka datanglah ke rumahku"


Setelah selesai kencan, mereka pun kembali ke rumahnya masing masing. Di kamar, Kohnidin berpikir keras untuk menurunkan hujan. Sebab dia bukanlah tuhan ataupun malaikat yang bisa menurunkan hujan. Kohnidin melakukan berbagai cara agar hujan bisa turun. Mulai dari mencuci motor, mencuci motor sampai mendatangi orang pintar untuk mendatangkan hujan. 


Ketika mendatangi orang pintar, Kohnidin tidak serta merta mempercayai. Dia memberikan beberapa pertanyaan untuk meyakini kemantapan hatinya untuk percaya. Kohnidin pun membuka pertanyaan kepada orang pintar.

"Wahai orang pintar, apakah betul kamu bisa menurunkan hujan?"

"Ya betul"

"Bagaimana caramu menurunkan hujan?"

"Melakukan ritual penurunan hujan"

"Baiklah jika caranya seperti itu, saya akan memberikan pertanyaan terakhir sebagai keyakinan saya terhadapmu"

"Silakan"

"Apa pendidikan terakhirmu"

"Saya tidak pernah sekolah"


Mendengar jawaban dari orang pintar, kohnidin pun bersegera meninggalkan tempat itu. Dia sudah salah memilih orang yang tidak berpendidikan. Satu minggu berlalu.. hujan tidak turun turun. Anjani menantikan kedatangan Kohnidin. Kohnidin hampir putus asa dan merasa tidak berguna untuk kekasihnya. Kohnidin memutuskan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat duha.


Singkat cerita, setelah selesai melaksanakan salat duha. Kohnidin dihampiri seorang ustadz. Dia menanyakan kondisi Kohnidin yang terlihat murung.

"Wahai anak muda, apa yang mengakibatkan dirimu murung seperti ini"

"Saya bingung pak, apa yang harus saya lakukan agar hujan turun"

"Kamu punya tuhan kan?"

"Punya pak, apakah tuhanmu berkuasa?"

"Ya berkuasa pak"

"Apakah tuhanmu mendengar keluh kesah hambanya?

"Ya betul pak"

"Baik, kalau begitu silakan minta kepada tuhanmu"

"Dengan cara apa pak?"

"Berdoa"

Sontak kohnidin langsung menangis, selama ini kenapa dia tidak meminta langsung kepada sang pencipta hujan. Kohndin bertaubat atas kelalaianya dan meminta doa agar diturunkan hujan. Kohnidin berdoa bukan untuk kekasihnya melainkan untuk keberkahan semua manusia yang merasakan turunnya hujan.


Singkat cerita, hujan pun turun.. di perjalanan menuju rumah Anjani. Tampak manusia manusia terlihat sangat bahagia. Hewan dan tumbuhan pun tampak bergembira merasakan air yang diturunkan sang pencipta. 


Sesampainya di depan rumah Anjani, ternyata kedatangan Kohnidin sudah ditunggu oleh Anjani. Anjani menanyakan perasaan  Kohnidin setelah turun hujan. Kohnidin menyampaikan bahwa permintaan Anjani sangat unik namun memiliki makna yang sangat dalam. Permintaan Anjani ternyata tidak hanya dirasakan oleh Anjani, tapi semua makhluk yang ada di bumi.


Kebahagiaan tidak selalu tentang harta, kebahagiaan bisa datang dari mana saja. Salah satu contohnya bisa dari doa orang baik yang meminta hujan kepada sang pencipta untuk kebahagiaan bersama.


Comments

Popular posts from this blog

Pulang