Pulang
Ayah akan melakukan segala cara untuk membahagiakan anaknya. Entah dia punya banyak harta atau tidak ada harta sepeser pun. Semua tempat akan dituju demi memenuhi kebahagiaan anak tercinta.
Sebut saja pak Mardi, ia adalah seorang supir truk pembawa pasir dari Bogor ke Jakarta. Semua itu dilakukannya setiap hari untuk memenuhi sesuap nasi yang akan disantap oleh anak dan sang istri. Tidak banyak uang yang dia terima dari hasil banting tulangnya itu. Hanya 500 ribu per bulan. Tapi itu cukup, karena pak Mardi selalu bersyukur atas rezeki yang diterimanya.
Pak Mardi yakin bahwa Rezeki datangnya dari Allah Swt. Menurutnya, kerja adalah cara bersyukur atas tubuh yang dipinjami oleh sang pencipta. Semakin ia bersyukur, Insyaa Allah semakin berkah rezeki yang pak Mardi terima dan dapatkan.
Satu minggu ke depan usia anak perempuannya menginjak umur 16 tahun. Ia bernama Mirna, anak yang cantik dan berprestasi di sekolahnya. Tahun tersebut juga Mirna masuk SMA. Mirna tidak pernah meminta apapun setiap hari ulang tahunnya. Jika ditanya mau minta apa oleh ayahnya, Mirna biasanya hanya meminta selalu pulang dengan selamat dan berkumpul lagi dengannya dan sang ibu. Karena Mirna tahu ayahnya hanya seorang supir pengangkut pasir.
Tepat hari ini berbeda, tepat seminggu sebelum ulang tahunnya. Ia meminta gawai untuk kebutuhan di sekolah SMA nya. Gawai itu sangat ia butuhkan demi menunjang kemudahan dalam berkegiatan dan berkomunikasi dengan teman-temannya di sekolah. Mirna merasa sedih karena harus mendapat perlakuan tidak nyaman setelah satu bulan belajar. Teman temannya merasa risih karena Mirna sulit dihubungi dan diajak bekerja sama karena tidak memiliki gawai.
Sampailah cerita itu ke telinga ayahnya. Pak Mardi berjanji kepada Mirna untuk membelikan gawai.
“Selama ini kan kamu ga pernah minta apa apa ke bapak setiap mau ulang tahun. Tapi kali ini kamu minta dibelikan HP. Bapak janji, akan membelikannya untuk anak bapak tercinta.” (sambil tersenyum dan mengelus kepala Mirna)
“Terima Bapak, jangan capek capek yah” sahut Mirna dengan nada bahagia
“Siap nak!” (Melakukan gerakan hormat ke Mirna)
Selama satu minggu itu pak Mardi bekerja lebih keras dari biasanya. Seharusnya jam 5 sore sudah di rumah. Jam 10 malam pak Mardi masih di perjalanan karena mengambil lembur teman supirnya. Anak dan istrinya di rumah khawatir karena sudah 5 hari pak Mardi tidak pulang. Ia lebih memilih menginap di tempat kerjanya dan makan dengan nasi padang 10 ribu setiap harinya. Demi apa?
Demi membahagiakan anak tercintanya.
Pukul 9.30 malam, Mirna terbangun dan bertanya kepada sang ibu
“Buk, ayah ko ndak pulang pulang ya, sudah 5 hari ayah tidak hadir di rumah kita, apakah ayah baik baik saja?” Tanya Mirna sambil mengeluarkan air mata.
“Insyaa Allah bapakmu akan baik baik saja. Kita berdoa dan kembalikan kepada Allah supaya bapak pulang” balas sang ibu sambil menyeka pipi Mirna.
Setelah itu Mirna kembali tertidur, di malam itu sang ibu tak kuat menahan tangis dan rindu karena ketidakhadiran suami tercintanya.
Tepat hari Minggu, hari ke 7 jam 10 malam, pak Mardi akhirnya pulang ke rumah. Istrinya menyambut pak Mardi yang wajahnya pucat pasi.
“Mas, kenapa kamu baru pulang?” Tanya sang istri sambil membopong sang suami ke kasurnya
“Maaf yah membuatmu khawatir, selama beberapa hari ini aku bekerja lebih keras untuk membelikan Mirna HP baru” sambil menunjukkan HP kepada sang istri.
“Setidaknya tolong kabari aku mas, aku kan istrimu” balas sang istri dengan nada kesal.
“Maaf toh.. HP mas sudah dijual untuk tambahan beli HP Mirna yang baru” sambil tersenyum tipis.
“Loh, nanti ngabarin akunya gimana mas?” Tanya istri dengan wajah bingung.
“Aman sayang, nanti anakmu yang mengabari”
“Maksudnya apa mas? Aku ndak ngerti loh”
“Sudah sudah, nanti Mirna kebangun. Aku mau istirahat dulu yah. Besok pagi tolong berikan HP barunya ke Mirna. Semoga dia senang” sambil mengelus kepala istrinya
Akhirnya sang suami tertidur di pangkuan istri dan istrinya memperbaiki posisi tidur suaminya sambil menarik selimut ke tubuh suaminya di kasur. Karena lelah juga, sang istri pun ikut tidur di samping suaminya.
Keesokan pagi.
Sinar matahari masuk melalui celah jendela. Sinar yang besar itu menyapa rumah kecil penghuni di dalamnya. Pagi itu wajah sang istri terlihat bahagia, karena suami sudah pulang dan sudah ada di kasur bersamanya. Ketika terbangun, sang istri melihat sang suami masih tertidur dan belum ingin membangunkan. Karena tahu, malam itu suaminya tampak lelah sekali.
HP baru sudah ada di genggaman sang istri, ia pun segera membangunkan Mirna untuk memberikan kabar bahagia.
“Anakku sing ayu.. bangun bangun, ibu ada sesuatu nih untukmu” sambil mengelus kepala Mirna yang sedang tertidur.
“Ah ibukku yang cantik, bapak sudah pulang buk?” Sambil merubah ke posisi duduk dan mengucek mata.
“Alhamdulillah bapak sudah pulang nak, ini ada hadiah ulang tahun dari bapak” sambil memberikan HP baru ke Mirna.
“Wahh HP baru, Asikk terima kasih ya ibuk” Mirna beranjak dari tempat tidur dan lompat lompat bahagia
“Bilang terima kasihnya jangan ke ibuk saja, ke bapakmu juga yang sudah berusaha membelikan HP barumu”
“Hehehe iya buk, bapak di mana buk?”
“Tuh ada di kasur, coba sekalian bangunkan bapakmu” menyuruh Mirna dengan tenang.
“Siap buk!” Sambil hormat ke ibunya
Sesampainya di kasur bapak, Mirna berusaha membangunkan bapaknya yang sedang tertidur.
“Pak bangun pak, terima kasih ini HP barunya. Aku suka dan aku senang. Bapak juga sekarang sudah pulang. Aku tambah senang pak. Pak bangun pak. Pak bangun pakkk!” Semakin akhir nada Mirna semakin keras
“Ibukkkkk sini buk cepat!” Memanggil ibunya dengan panik
“Kenapa anakku? Ko teriak teriak?” sambil mendekati Mirna
“ini loh bapak ga bangun bangun, susah banget dibangunkannya. Biasanya ga susah” sambil menangis
“Sebentar ya nak, ibu coba cek terlebih dahulu” sambil mengecek pernapasan dan urat nadi sang suami
“Nak, bapak sudah pulang” sambil memeluk anaknya.
“Pulang ke mana? Ini kan sudah di rumah buk. Pak bangun pak.. pak bangunnnnn!” sambil menggerakan tubuh ayahnya berkali kali
“Iya nak, bapak sudah pulang.
Kembali kepada Allah” sambil menangis dan memeluk Mirna.
Tidak ada ucapan perpisahan, hanya kebahagiaan yang diberikan kepada anak tercinta.
Comments
Post a Comment